Tugas Kerasulanku, Door To Door…

Purbayan Dalam Kenangan Karya Pastoral (01)
Oleh : Rm. Leonardus Smit, SJ (1982 – 1990)

Setelah menjalankan tugas pertama kali sebagai imam Yesuit dengan menjadi pastor pembantu di Muntilan, aku di pindah tugaskan ke Solo. Tugasku adalah mengelola Yayasan Kanisius dan menjadi pastor pembantu di Gereja Paroki St. Antonius Purbayan (1982 – 1985).

Awalnya, di Pastoran Purbayan, aku merasa seperti kucing yang masuk ke gudang yang salah. Maka waktu itu, sesudah menjalankan tugas bulanan melayani stasi Ngrayapan, di seberang Bengawan Solo, dengan masyarakatnya yang sederhana, aku bilang : “Kalau sebulan sekali aku tugas di Ngrayapan, aku bisa hidup di sini.”

Tiga tahun berjalan, umat paroki dan aku semakin saling mengenal. Waktu itu, aku berkali – kali bersyukur karena bisa cepat beradaptasi dengan umat. Tak lama kemudian, Romo Madya dipindah tugaskan ke Sanata Dharma untuk menjadi dosen. Dan aku diberi tugas rangkap, yakni menjadi Pastor Kepala (1985 – 1990) dan tetap mengurus Yayasan Kanisius. Warisan masalah yang dihadapi adalah Gereja Purbayan terlalu kecil, sementara jarak waktu antar misa terlalu pendek. Akibatnya, umat yang mau keluar dan yang mau masuk saling berebut jalan. Di akhir misa, Romo Reinders dan aku sering berjaga di pintu, menahan mereka yang tak sabar untuk masuk.

Saat itu, panitia pembangungan sudah membuat rencana untuk membangun gereja baru di samping yang lama. Tapi, rencana itu ditolak oleh umat, sehingga berhenti. Dengan berdebar – debar, aku membubarkan panitia dan selang beberapa waktu membentuk panitia yang baru dengan ketua Bapak Sukadya, seorang dosen dan ketua Yayasan Slamet Riyadi yang mengelola SMA Kanisius Petang.

Gagasan yang dipakai bukan lagi bangunan baru, tetapi memperluas gereja. Sesudah dikembangkan dalam sketsa sederhana, diperlihatkan pada Dewan Paroki. Terdengar jawaban spontan, “Nah, kalau begini, setuju!”. Bapak Kardinal juga memberi restu dengan meminta diperluas lagi. Tidak lama kemudian, proyek dimulai.

Ditengah proses, Pak Sukadya meneleponku dengan usul perubahan besar. Genteng gereja diganti total dan rangka kayu jatinya diganti dengan konstruksi besi. Usul baik itu aku setujui dan mereka semakin semangat. Tugasku hanya memimpin doa sebelum makan saat rapat, dan menandatangani ucapan terima kasih kepada donatur.

Tugas kerasulan yang kutekuni adalah kunjungan ke rumah umat, dari pintu ke pintu. Kerasulan itu amat dicintai oleh umat dan aku masih memakai cara membawa data umat dari kantor paroki. Suatu kali, aku hampir selesai mengunjungi rumah umat di satu lingkungan. Tinggal ada satu kartu dimana yang terdaftar adalah nama satu putri.
Untung, gadis itu belum pindah. Dia sudah menikah, tetapi di luar gereja. Aku duduk di rumahnya, dikelilingi empat putri yang sudah babtis dan nikah diluar gereja. Akhirnya, mereka bisa dibantu kembali ke gereja. Satu per satu perkawinan mereka disahkan secara Katolik.

Waktu itu, kami tiga imam Yesuit tinggal di pastoran dengan damai. Saat visitasi Provinsial Serikat Yesus di seluruh Indonesia, Rm. P. Suradibrata, SJ minta bertemu dengan ibu – ibu dan romo lain dilarang ikut. Selepas pertemuan, Romo Sura bercerita : Ibu – ibu itu menyebut Cuma ada satu kekurangan di Purbayan, yaitu mereka tidak bisa ngrasani romo seperti di Paroki lain, karena kami bertiga rukun.

Romo Hari memperhatikan anak muda, Romo Reinders pada orang tua, dan aku pada yang lain. Jumlah magang babtis banyak karena antara lain Purbayan merupakan satu – satunya paroki dimana pastornya turun langsung mengajar. Tingkat kehadiran dalam rapat Dewan Paroki dan rapat para ketua lingkungan juga tinggi sehingga program dewan bisa berjalan dengan lancar dan baik.

Saya bersyukur boleh melayani Umat Purbayan selama delapan tahun. Saat aku akan dipindah, dewan membentuk panitia perpisahan. Romo Hari melatih sekelompok umat main ketoprak. Mereka menyewa gedung besar dan pada hari “H” penuh sesak.

Di hadapan umat, aku menyerahkan kunci tabernakel kepada Romo Mardi Kartono, SJ sebagai Pastor Kepala yang baru. Aku teringat pada kuliah Mgr. Kartosiswaya, Pr. Tertulis dalam hukum gereja bahwa kunci tabernakel harus disimpan di kamar tidur Pastor Kepala.

Berakhir sudah masa pelayananku di Purbayan dengan banyak kenangan manis. Satu colt ibu – ibu mengantarku ke Paroki Karangpanas, Semarang. Melihat tempat tugasku yang baru, mereka bilang, “Kami sudah melihat kantor barumu. Jelek. Kotanya kumuh dan gereja ini sangat kecil. Ayo, kembali saja ke Solo bersama kami.” Aku pun spontan tertawa bersama mereka.

Terima kasih, umat Purbayan. Selamat ulang tahun yang ke 100!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *