Sejarah Paroki St. Antonius Purbayan

Gereja Santo Antonius Purbayan Di Masa Penjajahan Belanda

Sebelum tahun 1859 Umat Katolik di Surakarta dilayani langsung dari Semarang. Orang Surakarta pertama yang dibabtis adalah Anna Catharina Weynschenk (14 November 1812) dan Georgius Weynschenk (24 November 1812) bersama – sama 59 orang babtisan lainnya. Kemudian pada tahun 1859 stasi Ambarawa didirikan, meliputi daerah Salatiga, Ambarawa, Surakarta dan Madiun. Pada waktu itu stasi Ambarawa berada di bawah pimpinan Rm. Yohanes F.V.D Haegen, dengan jumlah umat 1.787 orang (1.206 orang di antaranya adalah tentara).

Tanggal 29 Oktober 1905 Rm. Cornelis Stiphout, SJ dari Pastoran Ambarawa, mendapat izin dan mulai merintis berdirinya Gereja di kota Surakarta. Usaha ini berhasil. Dalam kondisi darurat, karena gereja belum selesai dibangun, Perayaan Ekaristi yang pertama kali diadakan di Pastoran pada tanggal 22 Desember 1907.

Akhirnya, pada bulan November 1916 Gereja Santo Antonius Purbayan berdiri dan diberkati. Rm. C. Stiphout, SJ diangkat sebagai Pastor Paroki yang pertama di Surakarta dengan surat pengangkatan tahun 1918.

Tanggal 15 Januari 1923 Rm. Cornelis Lucas, SJ dari Muntilan, pindah ke Surakarta. Mulai saat ini, setiap hari Minggu pasti ada Misa. Tahun 1924 – 1929, Rm. Houvenaars, SJ diangkat menjadi Pastor Paroki Purbayan. Tidak lama sesudahnya, Sekolah Rakyat dengan bahasa pengantar bahasa Jawa untuk pertama kalinya dibuka (SDK Kebalen). Menyusul kemudian Sekolah Rakyat yang kedua pun dibuka (1924). Tanggal 19 Agustus 1924, Rm. Jansen, SJ dipindah ke Weltevreden dan tiga bulan kemudian Rm. J. Brendsen, SJ dari Muntilan menjadi misionaris di Surakarta.

Di dalam masa tugasnya, Rm. Houvenaars, SJ membeli tanah di Pucangsawit untuk tempat pemakaman Katolik. Disamping itu, beliau juga mendirikan Maria Congregatie untuk bapak – bapak guru Jawa. Tahun 1928, mulai banyak sekolah – sekolah didirikan; diantaranya sekolas ELS, HIS Bruderan, HIS Susteran dan Sekolah Rakyat, seluruhnya berjumlah sembilan sekolah. Rm. A.V. Velsen, SJ dipindah ke Magelang (5 Januari 1928) dan sebagai gantinya Rm. Cornelius Vesteeg, SJ (1928) dari Buitenzorg ditugaskan di Surakarta.

Tanggal 2 Juni 1929, Rm. Jacobus Schots, SJ sehabis cuti dari Belanda, ditugaskan di Surakarta. Beliau mendirikan Gereja di Baturetno, Wonogiri dan Rm. H. JM. Koch, SJ diangkat menjadi Pastor Paroki Purbayan. Pada awal bulan Juli 1929, lahirlah Sekolah Yayasan Triyasa di Surakarta, yang didirikan oleh tiga perkumpulan, yaitu Wanita Katolik, Katolik Wandawa, dan PPKD. Sekitar tahun 1930, Rm. B. Hagdorn, SJ mengangkat Bapak A. Mujikuwat Sastrawinata menjadi koster gereja yang pertama.

Pada waktu itu, Rm. Koch, SJ mendatangkan patung – patung dari Belanda serta dua lonceng yang diberi nama St. Maria dan St. Ignatius. Benda – benda tersebut sampai sekarang masih ada di Gereja St. Antonius Purbayan. Menyusul kemudian tanggal 14 Januari 1930, Rm. J. Sevink, SJ dari Betawi pindah ke Surakarta.

Tanggal 14 Agustus 1931, Rm. B. Hagdorn, SJ menggantikan jabatan Rm. Koch, SJ yang telah berakhir masa tugasnya sebagai Pastor Paroki di Purbayan. Rm. Hagdorn, SJ ini rajin membina dan memberi semangat pemuda – pemudi untuk menjadi Pastor, Bruder, dan Suster. Usaha beliau ini tidaklah sia – sia, karena ada beberapa orang yang kemudian menjadi Pastor. Sejak saat ini, Misa Kudus pada hari Minggu menjadi tiga kali. Misa Pertama (05.30) dengan Bahasa Belanda, Misa Kedua dengan Bahasa Jawa dan Misa Ketiga dengan Bahasa Belanda. Pertambahan umat setiap tahunnya mencapai sekitar 100 orang.

Pastoran Gereja Pada Masa Lalu

Oleh karena sedemikian banyaknya kegiatan yang dilakukan Gereja St. Antonius Purbayan, umat pun semakin lama semakin bertambah banyak. Maka diadakan rencana untuk membangun gedung gereja baru. Setiap Minggu, umat Paroki Purbayan mengadakan kolekte khusus untuk pembangungan gereja baru dan mengadakan kegiatan pengumpulan dana. Bahkan Belanda juga memberikan bantuan berupa lonceng, kaki lilin, kelinting, alat – alat perlengkapan Misa dan Tabernakel. Selain itu, didatangkan juga Romo – Romo MSF, yang untuk sementara waktu tinggal dengan Romo – Romo SJ di Pastoran Purbayan. Mereka itu diantaranya Rm. Chr. Hendriks, MSF dan Rm. Elfrink, MSF yang mendapat tugas mengurus persiapan dan pelaksanaan pembangunan gereja yang kini dikenal dengan Gereja Santo Petrus Gendengan Purwosari.

Peletakan batu pertama dilakukan tanggal 16 September 1938 dan diberkati oleh Rm. Verhaar, SJ didampingi oleh Rm. Th. Poesposoeparto, SJ dan Rm. Chr. Hendriks, MSF. Didalam upacara tersebut dilakukan penandatanganan prasasti berturut – turut oleh Gubernur, Rm. Verhaar, SJ dan Rm. Chr. Hendriks, MSF. Kemudian prasasti itu dimasukkan ke dalam tabung timah bersama dengan tiga keping mata uang logam bernilai ½ sen, 1 sen, dan 1 picis (10 sen), yang melambangkan umat yang tergolong miskin, cukup dan kaya.

Dengan selesainya pembangunan Gereja Santo Petrus Purwosari, selesai pula masa tugas Rm. Verhaar, SJ dan selanjutnya beliau digantikan oleh Rm. Th. Poesposoeparto, SJ selaku Pastor Paroki Purbayan.

Baca Selanjutnya :

Sejarah Paroki St. Antonius Purbayan (bagian ke 2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *