Siapakah Aku Ini?

Seandainya sekarang ini Tuhan Yesus bertanya kepada kita, sebagaimana ditanyakan kepada para murid : “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Markus 8:29). Apa jawab kita? Secara spontan, kita masing – masing akan menjawab sesuai pengenalan dan pemahaman kita akan siapakah Tuhan Yesus itu.

Menjawab pertanyaan tersebut akan terasa sangat relevan jika jawaban kita berdasarkan penelusuran kita pada Kitab Suci. Dengan pendekatan seperti itu kurang lebih kita dapat menjawab seperti berikut ini :

1. Pertama – tama Kristus itu selalu setia untuk melayani. Ia sungguh manusia bagi orang lain. Semuanya mendapatkan tempat, dan setiap orang yang datang kepada – Nya disambut dengan hangat.

2. Ia membaktikan diri – Nya sebagai pribadi kepada setiap orang secara penuh, dan menerima setiap orang seperti apa adanya. Tidak ada orang yang tidak penting dalam mata – Nya. Sehingga dengan kehadiran – Nya setiap orang dapat menjadi dirinya sendiri.

3. Yesus dapat menyelami suka duka manusia, Ia begitu jauh menaruh perhatian kepada semua manusia, hingga Ia berdoa bagi para pembunuh – Nya, bahkan ketika mereka mengejek Dia tanpa ampun dalam sengsara dan kehinaan – Nya.

Sebuah pertanyaan muncul di benak kita, mengapa Yesus bisa seperti itu? Rahasianya dapat ditemukan pada setiap halaman Injil. Yesus selalu mengarahkan diri – Nya kepada Bapa. Sebentar saja Yesus berbicara, pastilah Bapa – Nya telah muncul dalam pembicaraan – Nya. Bagi Yesus, Bapa adalah segalanya. Rasa dicintai oleh Bapa, adalah udara yang Ia hirup. Pengalaman kebersatuan dengan Bapa adalah sumber dimana Ia menimba hidup – Nya.

Tanpa pengalaman ini, hidap dan pewartaan Yesus menjadi mitos, tanpa makna untuk hidup. Disini kita dapat melihat hubungan antara Dia dan Bapa dan hubungan – Nya dengan manusia. Karena Yesus sedemikian berakar dalam, masuk ke dalam Bapa sebagai dasarnya, maka cabang – cabangnya dapat meluas meliputi semua manusia. Karena Yesus merasa terlindungi oleh cinta Bapa – Nya, Ia tidak perlu lagi memperhatikan diri – Nya, serta dapat memberikan perhatian penuh dengan cinta tak terbagi kepada manusia.

Bagaimana dengan kita? Dengan kesadaran bahwa kita sungguh dicintai Allah, maka tak ada sikap lain kecuali menjalani panggilan perutusan kita :

– Menyangkal diri, artinya kita tidak lagi mementingkan diri sendiri melainkan selalu terbuka kepada kebutuhan dan keselamatan orang lain

– Memikul salib, seperti Kristus yakni kita mampu mencintai hingga rela sampai sakit dan menderita

– Mengikuti Yesus, artinya mampu sepikiran, seperasaan dan secita – cita dengan Tuhan Yesus sendiri

Karena seorang Kristen iu adalah seorang yang menemukan makna hidup seluruhnya dalam Kristus, dengan mengikuti dan meneladan Dia serta bertumbuh dalam Kristus yang hidup.

Pesta St. Joannes Chrysostomus – 13 September

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *